Siap Siaga
BNPB Australian Government
“Yang Lokal Tahu Yang Terbaik” – Refleksi untuk Hari Kemanusiaan Sedunia
“Yang Lokal Tahu Yang Terbaik” – Refleksi untuk Hari Kemanusiaan Sedunia
https://www.siapsiaga.or.id/wp-content/uploads/2022/08/WHD-01-scaled.jpg
- By siapsiaga

“Yang Lokal Tahu Yang Terbaik” – Refleksi untuk Hari Kemanusiaan Sedunia

Dari begitu banyak hari internasional yang diperingati, tidak ada hari yang begitu berkesan bagi saya seperti Hari Kemanusiaan Sedunia, yang jatuh pada tanggal 19 Agustus setiap tahunnya.

Mengapa 19 Agustus? Pada hari itulah di tahun 2003, ketika markas besar Persatuan Bangsa Bangsa di Irak dibom dan 19 orang tewas, termasuk Kepala Diplomat PBB, Sergio Vieira de Mello. Pada tahun dan negara yang sama ketika saya dan para kolega saya terluka saat menjalankan misi kemanusiaan.

Hari ini memperingati para pekerja bantuan kemanusiaan – terlalu banyak dari mereka yang tewas dalam menjalankan tugas, banyak dari mereka adalah teman dan sangat saya hormati. Pada hari inilah kita harus mengingat mereka dan pekerjaan luar biasa yang mereka sudah lakukan.

Tema dari Hari Kemanusiaan Sedunia tahun ini adalah “It Takes a Village”, mengenali bahwa aksi kemanusiaan adalah sebuah usaha keras bersama yang melibatkan banyak orang dari semua kalangan. Seperti yang ditekankan oleh PBB, “kapan dan dimanapun ada orang yang membutuhkan, ada orang lain yang menolong mereka. Mereka adalah orang-orang yang terkena dampak itu sendiri – selalu menjadi yang pertama merespon saat bencana terjadi – dan komunitas global yang mendukung mereka dalam pemulihan.”

Penghormatan ini sangatlah penting dan pantas dilakukan. Ketika kita melihat implikasi kemanusiaan yang muncul dari tantangan kesehatan planet yang kita hadapi dan sebagai konsekuensinya meningkatnya kebutuhan kemanusiaan, kita tidak dapat berjalan maju dengan cara yang begitu-begitu saja untuk dua alasan.

Pertama, perwakilan kemanusiaan PBB dan organisasi non-pemerintah kemanusiaan internasional yang besar dan para donor yang membayar mereka harus melepaskan sumber daya dan kekuasaan yang telah dikumpulkan selama enam dekade terakhir dan menerima bahwa masyarakat lokallah yang paling tahu cara persiapan untuk dan menanggapi bencana dan krisis. Tetapi agar penduduk setempat dapat melakukannya, sumber daya harus mengalir kepada mereka dan bukannya ke luar. Mereka harus dimampukan untuk dapat “membeli” layanan tambahan jika mereka memutuskan membutuhkannya. Saya telah menangani masalah “pelokalan” selama bertahun-tahun dan tetap kecewa terhadap perubahan sistemik yang sangat lambat.

Analisa terbaru tentang pentingnya pemikiran ulang dalam pelaksanaan sistem kemanusiaan telah dijabarkan di awal tahun ini melalui laporan pembelajaran yang ditugaskan oleh pemerintah Australia dan Indonesia melalui program SIAP SIAGA di Indonesia. Laporan tersebut melihat dampak Covid-19 terhadap pengendalian bencana di wilayah tersebut.

Berjudul “Karena Resiliensi Itu Lokal” (tersedia di bit.ly/siap_report), laporan tersebut mengakui bahwa tidak ada banyak hal baru yang dapat diutarakan tentang perlunya perubahan pada akar dan cabang dalam melokalisasi kesiapsiagaan dan respon terhadap bencana, tetapi menyerukan percepatan mendesak dalam mengimplementasikan apa yang telah disepakati di tingkat internasional, regional dan nasional. Laporan tersebut menekankan bahwa kenyataannya seringkali masyarakat lokal semakin banyak mengambil tindakan sendiri, dan bukan dikarenakan adanya badan organisasi internasional besar.

Kedua, ketika melihat ke masa depan, cukup jelas bahwa organisasi kemanusiaan – baik internasional, regional, nasional atau lokal – akan menghadapi tantangan yang semakin meningkat dan sampai saat ini kesiapan mereka sangatlah kurang baik.

Argumen Saya di surat kabar ini selama sembilan bulan terakhir [di kolom bulanan Planetary Health Matters di StarLifestyle] adalah bahwa kita perlu bekerja dengan planet ini dan bahwa kesehatan planet dan semua orang yang hidup di dalamnya berkaitan.

 

Untuk para pekerja kemanusiaan ada beberapa tantangan tertentu:

Politik – di mana kita melihat bahwa kepemimpinan umat manusia menjadi kewalahan oleh meningkatnya intensitas dan luasnya krisis – baik yang diakibatkan manusia maupun iklim – yang memiliki dimensi kemanusiaan di dalamnya. Pada saat yang sama, ada gangguan yang terus-menerus dan terjadi secara global dari dunia kita yang semakin digital.

Kombinasi ini menyebabkan pemerintah untuk mundur dari multilateralisme dan kewajiban kemanusiaan mereka di bawah hukum seperti yang sudah didemonstrasikan dalam respon global yang tidak merata terhadap Covid-19 dan krisis iklim serta penutupan perbatasan yang lambat tetapi tampaknya tak terbendung bagi para migran, termasuk para pengungsi. Hal ini berdampak negatif bagi kesehatan, terutama bagi lini masyarakat yang paling rentan.

Ekonomi – di mana kebutuhan kemanusiaan telah melampaui kapasitas respon pemerintah dan aktor kemanusiaan global. Tindakan cepat dan berani harus diambil untuk mengatasi krisis kesehatan planet kita saat ini, karena jika tidak, kebutuhan akan berlipat ganda dalam keadaan darurat yang semakin kompleks, seperti yang terlihat dalam pandemi Covid-19 dan kinerja dalam penanganan perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan potensi konflik yang terjadi karenanya.

Situasi di Eropa saat ini adalah kasus di mana, selain gelombang panas intens yang disebabkan oleh perubahan iklim, konflik Ukraina yang mengarah pada kekurangan bahan bakar fosil dan kekurangan bahan baku, serta tren inflasi terkait yang mendorong kebutuhan kemanusiaan – sepenuhnya diakibatkan oleh ulah manusia.

Bahwa sistem kita sangatlah kurang siap untuk kemungkinan-kemungkinan ini telah jelas ditunjukkan selama dekade terakhir dan semakin gamblang dalam 24 bulan terakhir.

Aspek sosial – di mana aksi kemanusiaan semakin digunakan sebagai solusi jangka pendek dalam krisis yang berkepanjangan, di mana Dewan Keamanan PBB hanya menunjukkan keresahan saja tapi pada akhirnya tidak melakukan banyak hal, menyebabkan semakin banyak orang hidup dalam situasi yang sangat rentan selama bertahun-tahun, biasanya hidup dalam kondisi tidak berkelanjutan, tidak sehat di luar sistem perlindungan sosial formal, di perkemahan sementara yang menghasilkan emisi karbon tinggi.

 

Saat memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia pada hari Jumat mendatang, mari kita ingat bahwa meskipun memang ini “membutuhkan satu kampung”, bantuan kemanusiaan harus diberikan kepada orang-orang yang paling rentan yang terjebak dalam bencana atau krisis berdasarkan penilaian kebutuhan yang ada. Siapa yang lebih baik untuk membuat penilaian ini selain mereka yang paling tahu: pekerja kemanusiaan profesional lokal yang tinggal dan bekerja di antara mereka yang membutuhkan.

—–

Dr Jemilah Mahmood, seorang dokter dan pemimpin krisis yang berpengalaman, telah ditunjuk sebagai direktur eksekutif Sunway Center for Planetary Health di Sunway University pada Agustus 2021. Beliau adalah pendiri lembaga bantuan internasional Mercy Malaysia dan telah menjabat dalam peran kepemimpinan internasional dengan PBB dan Palang Merah selama dekade terakhir.

Tags: